By. Enny Musfiroh Setyarini
Seorang ibu datang untuk mencurahkan isi hatinya siang itu. Dia menyampaikan unek-uneknya terkait rasa kecewanya dengan salah satu temen deketnya (yang merupakan teman ngajinya, jadi tiap pekan mereka saling bertemu). Menurutnya dia sangat kecewa dengan temennya itu karena perbedaan konsep dalam mendidik anak.
“Gimana gak jengkel Bu …dia tuh membiarkan saja apa yang dilakukan anaknya (seorang anak laki-laki berusia 3 tahun). Saya sudah sering melihat berbagai kejadian, dan sudah sering pula saya mengingatkan.”, ibu itu mulai bercerita. Aku sekedar manggut-manggut, sengaja membiarkan agar dia mengeluarkan dulu unek-uneknya. “Waktu dirumah bu A, masak dia diam saja melihat anaknya main air dispenser, air dituang yang akhirnya tercecer kemana-mana. Yang lebih parah lagi dia gak minta maaf pada tuan rumah atas tingkah anaknya tersebut, bahkan diam saja ketika tuan rumah mengambil lap pel kemudian membersihkan ceceran air itu agar tidak licin. Harusnya kan dia tu sebagai rasa tanggungjawab mengepel tu lantai”
“Terus kalian sudah mengingatkannya?”, kataku. “Sudah Bu, kami saudah mengingatkan baik-baik agar gak begitu dalam bersikap, tetapi dia cuman manggut-manggut dan tidak mau menjawabnya”, kata ibu itu sambil terus melanjutkan ceritanya “ Terus pernah juga saat di rumah saya Bu, ketika anak dia main sama anak saya, ketika anak saya mengeluarkan mainannya dari dalam, tiba-tiba anak ibu itu merebutnya dari anak saya. Kontan aja anak saya teriak-teriak nangis. Terus saya mengingatkan kepada anaknya, “Abang mau pinjam mainan ya ? Kalo abang pinjemnya baik-baik pasti adiknya mau kasih pinkam kok …”. Yang lebih parah dia cuma bilang biasalah anak-anak…. Terus ketika saya memberi masukan pentingnya menanamkan disiplin positif bagi anak, dia cuman senyum-senyum saja, bahkan bilang “ Saya juga tahu kok, kan di buku ada”.
Saudaraku yang senantasa memuliakan dan semoga Alloh SWT memuliakannya….sungguh suatu harta yang berharga ketika Alloh SWT memberikan anugerah anak-anak yang lucu dan sehat. Tentu sebagai orangtua akan senantiasa berharap anaknya kelak akan manjadi anak yang sholeh, berguna bagi orangtu dan masyarakat. Tapi sadarkah kita, apakah metode mendidik anak yang kita terapkan sudah benar? Seperti kisah nyata diatas, ternyata belum tentu seorang ibu yang lulusan sarjana dan terkenal cerdas mampu menerapkan disiplin dalam mendidik anaknya, meskipun puluhan buku tentang anak sudah selesai dibedahnya. Sebagai orangtua yang memahami pendidikan anak seharusnya tidak akan berlaku demikian.
Terkadang banyak orang dengan alasan sayang terhadap anaknya maka akan membiarkan apa saja yang dilakukan anaknya (memberikan kebebasan tanpa batas kepada mereka). Padahal hal tersebut harus ditinjau ulang, apakah dapat dibenarkan membiarkan tanpa mengarahkan ?? Sikap yang bijak yang harus dilakukan oleh orangtua yang sayang terhadap anak-anaknya yaitu dengan cara memberikan pengingatan dan pengarahan ketika sang anak tercinta melakukan perbuatan yang “kurang tepat”. Kita tentu memaklumi sebagai seorang anak dia akan terus belajar, dia kan mencoba melakukan seseuatu yang dilakukan orang lain (meniru) kemudian mengadopsi tindakan yang dilakukan orang lain. Nah, pada kesempatan anak-anak meniru suatu tindakan orangtua itulah…maka kesempatan sebagaiorang dewasa untuk mengarahkannya.
Misalnya pada kasus pertama, ketika seorang anak kecil pernah melihat seseorang menuang air dispenser, maka anak tersebut punya keinginan untuk melakukan hal yang sama. Dalam frame berpikir anak, dia memencet kran dispenser dan senang sekali katika air bisa mengucur. Nah, saat inilah orangtua harus memahamkan bahwa air dispenser ini untuk minum bukan untuk dibuang-buang. Juga sampaikan dan dengan dicontohkan bagaimana agar dalam menuang air tidak tercecer kemana-mana. Juga pengingatan bahwa tombol yang boleh dipencer hanya yang ini bukan yang itu (karena airnya panas). Dengan terus diawasi ketika anak megambil air maka anak tersebut akan terpola kebiasaan baiknya. Akan tetapi ketika orangtua membiarkan maka tidak ada susuatu yang didapat anak tersebut, untuk ke depan dia akan terus menurus mengulanginya. Juga ketika orangtua marah-marah dalam bersikap, maka ketika ada kesempatan tidak ada orangtua dirumah si anak akan terus mencoba dan mencoba tanpa ilmu (karena tidak dipahamkan malah dimarahi selama ini).
Sekarang dalam kasus kedua ketika seorang ibu membiarkan anaknya ketika merebut mainan milik temannya (milik orang lian). Maka ketika sang ibu membiarkan maka akan tertanam dalam diri si anak bahwa perbuatan ini diperbolehkan, maka dia akan cenderung melakukan dilain kesempatan pada semua orang. Sikap bijak yang harus dimiliki orangtua yaitu dengan mendekati mereka yang sedang dalam konflik, kemudian bertanyalah apa yang terjadi (meskipun sebenarnya dari kejauhan sudah bisa mengetahui) agar mereka terlatih untuk menyampaikan. Kemudian beritahukan bahwa merebut itu bukan perbuatan anak yang sholeh. Kalo mau meminjam ajarkan bagaimana caranya dan sampaikan nilai bahwa barang tersebut bukan miliknya jadi ada batasan waktu untuk meminjamnya.
Dua kasus diatas hanyalah sebagian kecil contoh bagaimana seharusnya orangtu dalam mendidik anak. Ketika kita selalu mengatakan sayang pada anak kita…jangan salah mengartikan kata sayang tersebut. Sayang bukan berarti membiarkan anaknya berbuat semaunya, tapi dengan sayangnya kita sebagai orangtua akan meluruskan ketika anak melakukan kesalahan, memberitahuan mana yang benar mana yang salah dan memotivasi agar sang anak terus mau memperbaiki kesalahan dengan belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan. Ingatlah, bahwa anak adalah amanah yang diberikan Alloh SWT da kita akan dimintai pertanggungjawaban, apakah kita sudah optimal dalam mendidik anak-anak kita. Wallahua’lam bishawab.
Blog ini berisi tulisan ringan, artikel, catatan traveling dan sebagainya. Mencoba untuk terus merangkai kata menjadi kalimat bermakna. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk menguatkan kita agar terus bertambah keshalihannya. Sehingga kita sebagai wanita perindu syurga akan terus bertambah keimanan dan ketaqwaannya. Semua untuk memantaskan diri agar kita kelak benar-benar menjadi penghuni syurga-Nya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SEHAT vs SAKIT
Untuk sahabat yang masih diuji dengan sakit, dan sedang berjuang menjemput sehat. Semoga Allah SWT senantiasa teguhkan dan lipatkan kesabara...
-
By Enny Musfiroh Setyarini Hari ini,,,, Hari ketika lisanmu tidak bisa bicara,,, Hari ketika anggota tubuhmu tidak bisa berbuat,,, Hari...
-
OH.....INDAHNYA CINTA Cinta itu anugerah yang indah…. Cinta bagi seseorang sangat berarti dalam hidupnya, bahkan bisa dikatakan bahwa hi...
-
Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap tanggal 21 Februari ini untuk mengenang peristiwa bencana di TPA Leuwigajah. Peri...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar