By. Enny Musfiroh Setyarini
Bahagianya kita diberikan karunia Alloh SWT berupa keteguhan dalam beriman dan berislam. Perjalanan panjang telah kita lewati dan semakin menguji keistiqamahan kita dalam mempertahankan karunia yang besar tersebut.
Saudaraku fillah…kita hidup ini tentunya penuh dengan pengawasan orang lain. Kita sebagai anak selalu dalam pengawasan orangtua, kita sebagai murid selalu dalam pengawasan guru kita, dan kita sebagai seorang karyawan selalu dalam pegawasan atasan kita. Bagaimana rasanya ketika kita bekerja di kantor, atasan kita mengawasi kita dengan ketat, segala gerak gerik kita diperhatikannya….maka kita pun akan merasa grogi, deg-degan dibuatnya. Kita takut ketika apa yang kita kerjakan salah dan membuat marah atasan kita. Sehingga kita pun ingin memberikan yang terbaik bagi atasan kita dengan memberikan karya yang bisa memuaskan atasan kita.
Saudaraku fillah…mari kita kembalikan kondisi kita, siapapun kita termasuk didalamnya atasan kita, presiden kita dan semua yang ada di dunia ini juga tidak terlepas dari pengawasan Alloh SWT (yang disebut dengan Muraqabbatullah), dzat yang memiliki kita. Dimanapun kita berada Alloh SWT akan senantiasa mengawasi gerak-gerik kita. Kita ingat kembali kisah teladan dari Khalifah Umar Bin Khatab ra. Sebagai seorang khalifah beliau sangat amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia ingin memastikan bahwa kondisi masyarakatnya dalam keadaan baik. Maka pada suatu malam yang kelam, ketika waktunya orang tertidur denga pulasnya beliau mengadakan ronda malam keliling rumah penduduk.
Dari kejauhan beliau melihat masih ada rumah dengan lampu yang terang benderang. Maka kakinya pun ia langkahkan kesana. Karena mendengar pembicaraan dari dalam, beliau mencoba mendengarkan apa gerangan yang sedang dibahas mereka. Dan akhirnya pun bisa diketahui bahwa dirumah tersebut tinggallah seorang ibu dengan anak gadisnya yang sedang mempersiapkan barang daganagn untuk besok berupa susu. Mereka menuang-nuangkan susu ke dalam wadah. Sang Ibu berkata, “Hai anakku, mengapa tidak kau campur saja susu ini dengan air tawar?? Dengan demikian kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, toh orang-orang yang membeli pun tidak akan mengetahuinya karena dengan ditambah sedikit air tidak akan merubah rasa susu ini”. Dengan halus sang anak menolak permintaan ibu, “Ibu sayang meskipun tidak ada orang yang melihat dan ,engetahui perbuatan kita, sesungguhnya Alloh pasti tahu kan?”. Subhanallah….Umar bin Khatab sangat berkesan dengan jawaban anak perempuan itu, sampai beliu pun menitikkan air mata.
Saudaraku….sudahkah kita menanamkan nilai muraqabbatullah tersebut dalam diri kita ? Kalau kita melihat kondisi di sekitar kita, sangat berkebalikan dengan kisah ibu dan anak penjual susu seperti diatas. Sekarang, para pedagang akan melakukan apa saja yang membuat keuntungan dagangannya bisa berlipat-lipat. Penjual bakso akan menambahkan formalin agar baksonya lebih tahan lama dan tak jarang yang mencampuri daging dengan daging yang haram. Pedagang es mengaku memakai gula untuk memberikan rasa manisnya, padahal memakai pemanis buatan yang berbahaya bagi tubuh kita. Pedagang daging di pasar menjual daging gelonggongan untuk mendapat hasil lebih banyak dengan menipu pembeli. Dan masih banyak lagi, tidak akan cukup kalau kita menyebutkan satu persatu. Dari gambaran contoh diatas, mereka secara terang-terangan merasa tidak takut dengan sesama maupun dengan Rabbnya.
Saudaraku fillah…ingatlah sesungguhnya Alloh SWT mengawasi langsung terhadap apa yang terbersit dalam diri kita, terucap dalam lisan kita dan segala perbuatan kita. Selain itu, Alloh SWT juga mengutus malaikatnya untuk senantiasa mencatat segala amal perbuatan kita, untuk menjadi bukti kelak di pegadilan Alloh SWT. Dan ingatlah kembali bahwa nanti di pengadilan yang penuh keadilan kelak, semua anggota tubuh kita akan mencritakan sendiri terhadap apa yang telah dilakukannya. Hanya mulut sajalah yang yang tidak menjadi saksi, karena diakherat mulut akan terus mencoba melakukan pembelaan diri…tapi Subhanallah ….bukti-bukti yang Alloh miliki sebelum Dia menjatuhkan hukuman pada hambanya sudah sangatlah jelas. Alloh SWT mengawasi langsung, melalui dokumen catatan amal dari malaikat da juga kesaksian anggota tubuh kita.
Saudaraku…ketika kita menyadari sepenuhnya tentu kita menginginkan kelak raport kita adalah raport dengan nilai yang sangat memuaskan… Insya Alloh ketika kita menghiasi diri kita dengan muraqabbatullah, kita akan semakin hati-hati dalam berucap dan bertindak, agar kita tidak melakukan kesalahan yang berakhibat fatal. Perlu latihan memang untuk senantiasa bisa menghadirkan perasaan bahwa kita selalu diawasi Alloh SWT. Marilah kita berlatih terus dan menanamkan nilai muraqabbatulah dengan penuh cinta. Dan ketika muraqabbatullah telah hadir dalam diri kita maka Insyaallah kita akan menjadi pribadi-pribadi yang istiqamah, pribadi yang jujur dan amanah dan pribadi yang ikhlas. Ingatlah “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Alloh SWT.” Mari kita berlomba untuk menanamkan muraqabbatullah dalam diri kita, dengan cinta bukan karena terpaksa. Karena kita sebagai hambaNya cinta pada Ridhanya, karena kita merindukan syurganya. Wallahua’lam bishawab.
Bahagianya kita diberikan karunia Alloh SWT berupa keteguhan dalam beriman dan berislam. Perjalanan panjang telah kita lewati dan semakin menguji keistiqamahan kita dalam mempertahankan karunia yang besar tersebut.
Saudaraku fillah…kita hidup ini tentunya penuh dengan pengawasan orang lain. Kita sebagai anak selalu dalam pengawasan orangtua, kita sebagai murid selalu dalam pengawasan guru kita, dan kita sebagai seorang karyawan selalu dalam pegawasan atasan kita. Bagaimana rasanya ketika kita bekerja di kantor, atasan kita mengawasi kita dengan ketat, segala gerak gerik kita diperhatikannya….maka kita pun akan merasa grogi, deg-degan dibuatnya. Kita takut ketika apa yang kita kerjakan salah dan membuat marah atasan kita. Sehingga kita pun ingin memberikan yang terbaik bagi atasan kita dengan memberikan karya yang bisa memuaskan atasan kita.
Saudaraku fillah…mari kita kembalikan kondisi kita, siapapun kita termasuk didalamnya atasan kita, presiden kita dan semua yang ada di dunia ini juga tidak terlepas dari pengawasan Alloh SWT (yang disebut dengan Muraqabbatullah), dzat yang memiliki kita. Dimanapun kita berada Alloh SWT akan senantiasa mengawasi gerak-gerik kita. Kita ingat kembali kisah teladan dari Khalifah Umar Bin Khatab ra. Sebagai seorang khalifah beliau sangat amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia ingin memastikan bahwa kondisi masyarakatnya dalam keadaan baik. Maka pada suatu malam yang kelam, ketika waktunya orang tertidur denga pulasnya beliau mengadakan ronda malam keliling rumah penduduk.
Dari kejauhan beliau melihat masih ada rumah dengan lampu yang terang benderang. Maka kakinya pun ia langkahkan kesana. Karena mendengar pembicaraan dari dalam, beliau mencoba mendengarkan apa gerangan yang sedang dibahas mereka. Dan akhirnya pun bisa diketahui bahwa dirumah tersebut tinggallah seorang ibu dengan anak gadisnya yang sedang mempersiapkan barang daganagn untuk besok berupa susu. Mereka menuang-nuangkan susu ke dalam wadah. Sang Ibu berkata, “Hai anakku, mengapa tidak kau campur saja susu ini dengan air tawar?? Dengan demikian kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, toh orang-orang yang membeli pun tidak akan mengetahuinya karena dengan ditambah sedikit air tidak akan merubah rasa susu ini”. Dengan halus sang anak menolak permintaan ibu, “Ibu sayang meskipun tidak ada orang yang melihat dan ,engetahui perbuatan kita, sesungguhnya Alloh pasti tahu kan?”. Subhanallah….Umar bin Khatab sangat berkesan dengan jawaban anak perempuan itu, sampai beliu pun menitikkan air mata.
Saudaraku….sudahkah kita menanamkan nilai muraqabbatullah tersebut dalam diri kita ? Kalau kita melihat kondisi di sekitar kita, sangat berkebalikan dengan kisah ibu dan anak penjual susu seperti diatas. Sekarang, para pedagang akan melakukan apa saja yang membuat keuntungan dagangannya bisa berlipat-lipat. Penjual bakso akan menambahkan formalin agar baksonya lebih tahan lama dan tak jarang yang mencampuri daging dengan daging yang haram. Pedagang es mengaku memakai gula untuk memberikan rasa manisnya, padahal memakai pemanis buatan yang berbahaya bagi tubuh kita. Pedagang daging di pasar menjual daging gelonggongan untuk mendapat hasil lebih banyak dengan menipu pembeli. Dan masih banyak lagi, tidak akan cukup kalau kita menyebutkan satu persatu. Dari gambaran contoh diatas, mereka secara terang-terangan merasa tidak takut dengan sesama maupun dengan Rabbnya.
Saudaraku fillah…ingatlah sesungguhnya Alloh SWT mengawasi langsung terhadap apa yang terbersit dalam diri kita, terucap dalam lisan kita dan segala perbuatan kita. Selain itu, Alloh SWT juga mengutus malaikatnya untuk senantiasa mencatat segala amal perbuatan kita, untuk menjadi bukti kelak di pegadilan Alloh SWT. Dan ingatlah kembali bahwa nanti di pengadilan yang penuh keadilan kelak, semua anggota tubuh kita akan mencritakan sendiri terhadap apa yang telah dilakukannya. Hanya mulut sajalah yang yang tidak menjadi saksi, karena diakherat mulut akan terus mencoba melakukan pembelaan diri…tapi Subhanallah ….bukti-bukti yang Alloh miliki sebelum Dia menjatuhkan hukuman pada hambanya sudah sangatlah jelas. Alloh SWT mengawasi langsung, melalui dokumen catatan amal dari malaikat da juga kesaksian anggota tubuh kita.
Saudaraku…ketika kita menyadari sepenuhnya tentu kita menginginkan kelak raport kita adalah raport dengan nilai yang sangat memuaskan… Insya Alloh ketika kita menghiasi diri kita dengan muraqabbatullah, kita akan semakin hati-hati dalam berucap dan bertindak, agar kita tidak melakukan kesalahan yang berakhibat fatal. Perlu latihan memang untuk senantiasa bisa menghadirkan perasaan bahwa kita selalu diawasi Alloh SWT. Marilah kita berlatih terus dan menanamkan nilai muraqabbatulah dengan penuh cinta. Dan ketika muraqabbatullah telah hadir dalam diri kita maka Insyaallah kita akan menjadi pribadi-pribadi yang istiqamah, pribadi yang jujur dan amanah dan pribadi yang ikhlas. Ingatlah “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Alloh SWT.” Mari kita berlomba untuk menanamkan muraqabbatullah dalam diri kita, dengan cinta bukan karena terpaksa. Karena kita sebagai hambaNya cinta pada Ridhanya, karena kita merindukan syurganya. Wallahua’lam bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar