MEMBAHAGIAKAN SUAMI DENGAN PENUH CINTA
By. Enny Musfiroh SetyariniKepada saudariku para istri sholehah…. Selayaknya senantiasa bersyukur atas karunia Alloh SWT yang telah mempertemukan kita dengan pasangan kita. Misteri jodoh yang Alloh sudah tulisakan di lauhulmahfudz telah terjawab sudah, ternyata “beliau”lah yang menjadi jodoh kita. Seseorang yang bisa jadi sebelumnya sama sekali belum kita kenal, atau pun ternyata pasangan kita tidak jauh dari aktivitas yang kita lakukan dulunya. Semua sebelumnya misteri yang akhirnya terjawab sudah.
Saudariku, kita harus menjadi makhuk yang banyak bersyukur karena mempertemukan kita dengan lelaki yang sholeh yang bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangga kita dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Dan semakin lama ketika rasa sayang dan cinta semakin bersemi terhadap pasangan kita, kita akan semakin berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan kita.
Akhwati fillah, tidak terlalu sulit kiranya ketika kita terus mencari formula yang tepat untuk bisa menjadi yang terbaik dihadapan suami kita. Teringat kembali sebuah hadist yang menjadi inspirasi untuk menjadi istri yang sholehah. ”Istri yang paling baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan; Bila menyuruhnya, mentaatinya.; Bila sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya.” (HR An-Nasai dan dishahihkan oleh al-Iraqi).
Tiga poin ciri istri yang baik menurut Islam yang bisa disarikan dari hadist diatas, yaitu :
1. Istri yang baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan
Anugerah terindah ketika kita memiliki suami yang sholeh dan senantiasa ber mu’asyarah bil ma’ruf dengan istrinya. Dan begitu juga sebaliknya sebagi istri pun kita juga harus berlaku demikian pada suami kita.
Tidak terlalu sulit saya kira untuk menjadi indah dipandang dihadapan suami. Kalau boleh ana analogkan ketika kita pergi ke kantor, hotel maupun bank, kita akan disambut dengan pelayanan yang prima oleh petugas resepsionis. Kita akan terasa nyaman sekali ketika kita diperlakuakan ramah dan lemah lembut oleh mereka. Sehingga kita pun nyaman memberikan maupun menggali informasi darinya. Ketika terhadap orang yang belum kita kenal pun resepsionis memberikan perlakuan prima pada custemernya, maka kita sebagai seorang istri harusnya bisa memberikan pelayanan yang lebih prima lagi terhadap suami kita. Melalui sifat kelemah lembutan yang dimiliki seorang wanita, yang akan membuat pasangan/ suami kita merasa nyaman berada di dekat kita. Hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk membuat suami kita bahagia berdasar pengalaman pribadi ana, antara lain
a. Berusaha bertutur kata yang lembut dengan suami. Hindari perkataan dengan nada tingga karena hanya akan membuat keruh suasana. Dengan tatapan lembuat ke wajah suami saat beliau bercerita dan berkeluh, akan memberikan pencerahan dan ketenangan pada sang suami.
b. Jadikan rumah sebagai tempat yang nyaman. Bukan diukur dengan perabotan yang lux tentunya, tetapi cukup dengan membuat suasana rumah yang bersih dan tertata apik sehingga suami pun menjadi betah ketika pulang ke rumah.
c. Mengetahui makanan-makanan kesukaan suami dan berusaha untuk bisa menghidangkan dan meraciknya dengan tangan kita, sehingga suami akan terpuaskan dan menjadi bangga beristri kita. Jangan sampai sang suami lebih suka masakan racikan khadimat daripada masakan sendiri. Penting pula kita pertimbangkan selera-selera pribadi yang dimiliki suami. Jangan sampai pula suami yang gak suka pedas tetapi tiap masak kita masukkan banyak cabe ke masakan sehingga meskipun suami tetap makan tetapi tidak nyaman.
d. Sambutlah ketika suami pulang dengan senyuman yang paling manis yang kita miliki, Insya Allah semua kepenatan suami di tempat kerja akan terluluhkan ketika melihat sunggingan senyum menghiasi wajah sang istri. Dan hidangkan pula minuman dan makanan favorit suami.
e. Jadilah tempat curhat yang nyaman bagi suami. Karena dengan begitu suami akan merasa aman dan nyaman menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya. Sehingga suami merasa tercukupkan dengan curhat di rumah bersama sang istri. Sehingga tidak membawa maslah rumahtangga sampai keluar. Berusahalah menjadi pendengar yang baik, dan jangan mahal berkata ketika dimintai pertimbangan.
2. Istri yang paling baik adalah, yang mentaatinya suaminya
Insya Alloh kita semua sudah faham, bagaimana ketaataan pada suami kita tempatkan. Kita harus taat pada suami ketika perintah suami bukan perintah yang melanggar syariat Allah SWT. Jadi selama suami memerintahkan kebaikan yang tidak melanggar syariatNya maka…disitu dibutuhkan keridhaan kita untuk memenuhi perintahnya.
Perempuan yang sholihah, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)(QS. 4:34)
3. Istri yang paling baik adalah katika sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya.
Ketika sang suami bepergian, sang istri harus bisa menjaga kehormatan dirinya. Misalnya dengan tidak menerima tamu laki-laki ke dalam rumah, karena sangat besar bahayanya. Termasuk disini adalah memelihara harta suami dengan kita tidak memboroskan dan menghambur-hamburkan uang.
Akhwati fillah, marilah kita senantiasa evaluasi, apakah selama ini sudah sepenuhnya berkhidmat pada suami kita sehingga suami kita menjadi bahagia?? Marilah kita lakukan dengan penuh ketulusan dalam berkhidmat, karena kita ingin mendapatkan ridhaNya dan memperoleh jannahnya. ,”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya,dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilakan kepadanya: masuklah ke Surga dari pintu mana yang kamu suka.” (HR Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ahmad dan Thabrani, Albani menyatakan keshahihannya). Amin.
Note : Tulisan dibuat ketika dalam kesendirian karena suami sedang safar ke Kuala Lumpur. Untuk menyemangati diri ini agar lebih optimal dalam berkhidmat pada suami untuk memberikan yang terbaik kepada suami. Semoga member manfaat untuk yang lain..
PILIHAN JODOH DARINYA
By Enny Musfiroh SetyariniKetika ku buka kembali diaryku, aku pun tersenyum mengingat kembali kejadian-kejadian masa lalu yang seolah-olah masih jelas tergambar dimataku…
Tiga bulan sebelum Oktober 2002, kuterima sebuah amplop coklat dengan ukuran sedang dari murabbiyahku… Dia bilang bukanya dirumah aja ya… Aku bilang apa lagi ini Bu, bukannya baru aja kukembalikan biodata pertama yang Ibu kasih (karena banyak pertimbangan dan istikharah akhirnya dengan mantap kukembalikan). Wanita yang bersahaja itu dengan tatapan yang mendamaikan berkata, “ Bawa aja de, buka, pelajari, dan istikharah…”. Aku pun menjawab kembali “ Kenapa cepat sekali Bu?”. Tapi murabbiyah hanya menatap dengan senyum sambil mengangguk…dan tetap menyodorkan amplop itu. Aku pun langsung memasukkannya dalam tas sebelum ada orang lain yang mengetahuinya.
Setelah aku berpamitan, dalam perjalanan pulang pikiranku kembali menerawang. Aku sebenarnya memberanikan diri mengajukan biodata karena banyak gangguan yang menghampiriku. Disatu sisi banyak temen-temen bapakku (maupun beliau sendiri) yang membuat rencana untuk mengenalkan aku dengan beberapa teman sekantornya (karena dari dulu pengennya punya menantu PNS, he..he..). Selain juga banyak berbagai pihak yang coba mendekatiku dan meminta tolong orang lain untuk mendekatiku. Karena takut akan timbulnya fitnah maka murabbiyahku pun memintaku untuk membuat biodata. Tapi aku juga kaget ternyata prosesnya begitu cepat. Beberapa hari kuajukan biodata, aku langsung mendapatkan biodata ikhwan (yang pertama kukembalikan karena alasan banyak hal).
Setelah sampai mess tempat saya dan temanku tinggal, aku sholat asyar kemudian bismillah kubuka amplop coklat yang baru kuterima (kebetulan temanku lagi keluar sehingga gak perlu sembunyi-sembunyi). Betapa kagetnya setelah kubaca namanya. “Ha ??? Kenapa bisa dia yang disodorkan padaku?”. Temen ikhwan seangkatan yang juga seaktifitas dakwah. Beberapa hari kemudian saat aku bertemu dengan murabbiyahku aku menyampaikan hal-hal yang ada dipikiranku. Tetapi beliau menyampaikan agar aku tetap istikharah agar keputusan yang diambil adalah keputusan dariNya. Hampir 2 minggu aku melakukan istikharah, akhirnya aku ditunjukkan melalui mimpi yang melibatkan ustadz-ustadz (ceritanya dalam mimpi waktu itu ikhwan yang sekarang menjadi suamiku tersebut) pada awalnya datang mengkhitbah dengan didampingi beberapa ikhwan. Tapi bapakku waktu itu menolak. Kemudian tidak menyerah beliau datang mengkhitbah lagi di dampingi dengan ustadz Wiranto, Ustadz Mahmud Mahfudz (Mudir saat aku masih di Ma’had Al Bina), dan juga Ustadz Cahyadi Takariawan (karena aku sangat menyukai buku bukunya yang sederhana sehingga mudah dicerna dan membekas, padahal aku belum pernah berkomunikasi langsung dengan beliau). Subhanallah dalam mimpi itu akhirnya orangtuaku menaymbut dengan hangat lamaran dari calon suamiku.
Setelah kembali istikharah, akhirnya kami pun bersepakakat untuk meneruskan proses ini menuju malighai rumah tangga. Subhanallah banyak kemudahan yang Alloh berikan sehingga segala sesuatunya pun berjalan lancar. Terima kasih ya Alloh atas kemurahan yang Engkau berikan sehingga aku Engakau beri hadiah suami yang sholeh. Terima kasih kepada para murabbiyahku dan orang-orang disekitarku yang sangat berperan dalam perjalananku memperoleh hidayah ini.
Note : Mengingat kembali peristiwa 7 tahun yll.
OH.....INDAHNYA CINTA
Cinta
itu anugerah yang indah…. Cinta bagi seseorang sangat berarti dalam
hidupnya, bahkan bisa dikatakan bahwa hidup tanpa cinta adalah hampa.
Cinta membuat orang bisa tersenyum tulus…. Cinta membuat orang bisa
melakukan yang terbaik untuk yang dicintainya…..Bagaimanakah untuk
senantiasa menumbuh suburkan cinta tersebut ?? Nih dia yang bisa kita
lalukan :
MENYEMAI CINTA
Cinta dalam diri kita agar senantiasa hinggap dalam relung hati kita harus senantasa disemai. Marilah kita senantiasa menyemai benih-benih cinta tersebut (sebagaimana seorang petani ketika dia mulai menyebar benih-benih padi dengan harapan besar dia suatu saat akan memanen padi berkarung-karung). Begitulah ketika menyebar benih cinta maka pasti ada harapan di waktu tertentu kita akan bisa merasakan memetik buah cinta tersebut. Sebagai seorang anak kita sudah menyemai cinta kepada orangtua kita, dan bahkan saat ini mungkin sudah bisa memetik buah cinta kita. Kepada suami, ketika kita bermula proses dengannya (yang semula calon suami) maka kita semai cinta tersebut yang sampai akhirnya kita jatuh cinta dan memetik buah cinta tersebut. Kepada anak-anak kita saatnya kita menyemai cinta ketika dia mulai ada dalam kandungan, dan kelak dalam perjalanan waktu kita akan memetik buah cinta dari anak kita. Sebagai anggota masyarakat pun kita juga harus menyemai cinta kepada mereka (dengan sapaan hangat ketika bertemu dan bersikap baik pada mereka) dan tentu kita pasti suatu saat membutuhkan buah cinta dari mereka.
MENANAM CINTA
Setelah benih-benih cita kita semai, maka tugas kita sekarang adalah menanam benih-benih tersebut dengan baik. Karena ketika kita salah dalam menanamnya maka tentu hasil yang akan kita perolah pun juga tidak akan maksimal. Tanamkan cinta itu dengan segala perlakuan yang baik, maka kelak buah cinta pun akan kita petik dengan memuaskan. Ketika menanam cinta dengan ala kadarnya maka kita pun akan memanen cinta ala kadarnya.
MEMUPUK CINTA
Ketika cinta sudah tumbuh dalam diri kita maka kita perlu menumbuh suburkan rasa cinta tersebut dengan memupuk cinta. Kitalah yang bisa mencari formula pupuk apa yang tepat untuk cinta tersebut (karena formula cinta ini tidak diperjualbelikan). Kita akan menggali, mencari tahu, sehingga kita bisa meneukan formula yang tepat. Tidak jarang sampai saat ini pun kita terus menganalisa formula yang kita gunakan apakah sudah tepat belum, dan dalam perjalanan waktunya berusaha menyempurnakan formula yang kita gunakan.
MERAWAT CINTA
Ketika cinta sudah kita semai, kita tanam dan kita pupuk maka penting juga untuk kita merawat cinta tersebut. Ketika kita hanya melakuakan sampai tingkat memupuk, kita tidak akan tahu bagaimana cinta tersebut tumbuhnya. Makanya cinta itu butuh kita rawat dengan sepenuh hati. Kita akan menyingkirkan atau minimal meminimalisir hal-hal yang membuat cinta akan terganggu pertumbuhannya (seperti penanam [adi tentu dia akan me
MEMANEN CINTA
Nah, setelah kita menyemai, menanam, memupuk dan merawat cinta dengan penuh kehati-hatian, dengan penuh rasa cinta maka kita akan otomastis bisa memanen cinta tersebut di sekeliling kita. Ketika orang-orang di sekeliling kita telah memberikan cintanya pada kita, tentunya kita akan menjadi manusai paling bahagia. Karena dimanapun kita berada, kapan pun kita berada dan dalam kondisi bagaimana pun kita cinta-cinta yang sebelumnya dengan susah payah kita jaga akan hadir ditengah-tengah kita…Selamat merasakan nikmatnya cinta…
MENYEMAI CINTA
Cinta dalam diri kita agar senantiasa hinggap dalam relung hati kita harus senantasa disemai. Marilah kita senantiasa menyemai benih-benih cinta tersebut (sebagaimana seorang petani ketika dia mulai menyebar benih-benih padi dengan harapan besar dia suatu saat akan memanen padi berkarung-karung). Begitulah ketika menyebar benih cinta maka pasti ada harapan di waktu tertentu kita akan bisa merasakan memetik buah cinta tersebut. Sebagai seorang anak kita sudah menyemai cinta kepada orangtua kita, dan bahkan saat ini mungkin sudah bisa memetik buah cinta kita. Kepada suami, ketika kita bermula proses dengannya (yang semula calon suami) maka kita semai cinta tersebut yang sampai akhirnya kita jatuh cinta dan memetik buah cinta tersebut. Kepada anak-anak kita saatnya kita menyemai cinta ketika dia mulai ada dalam kandungan, dan kelak dalam perjalanan waktu kita akan memetik buah cinta dari anak kita. Sebagai anggota masyarakat pun kita juga harus menyemai cinta kepada mereka (dengan sapaan hangat ketika bertemu dan bersikap baik pada mereka) dan tentu kita pasti suatu saat membutuhkan buah cinta dari mereka.
MENANAM CINTA
Setelah benih-benih cita kita semai, maka tugas kita sekarang adalah menanam benih-benih tersebut dengan baik. Karena ketika kita salah dalam menanamnya maka tentu hasil yang akan kita perolah pun juga tidak akan maksimal. Tanamkan cinta itu dengan segala perlakuan yang baik, maka kelak buah cinta pun akan kita petik dengan memuaskan. Ketika menanam cinta dengan ala kadarnya maka kita pun akan memanen cinta ala kadarnya.
MEMUPUK CINTA
Ketika cinta sudah tumbuh dalam diri kita maka kita perlu menumbuh suburkan rasa cinta tersebut dengan memupuk cinta. Kitalah yang bisa mencari formula pupuk apa yang tepat untuk cinta tersebut (karena formula cinta ini tidak diperjualbelikan). Kita akan menggali, mencari tahu, sehingga kita bisa meneukan formula yang tepat. Tidak jarang sampai saat ini pun kita terus menganalisa formula yang kita gunakan apakah sudah tepat belum, dan dalam perjalanan waktunya berusaha menyempurnakan formula yang kita gunakan.
MERAWAT CINTA
Ketika cinta sudah kita semai, kita tanam dan kita pupuk maka penting juga untuk kita merawat cinta tersebut. Ketika kita hanya melakuakan sampai tingkat memupuk, kita tidak akan tahu bagaimana cinta tersebut tumbuhnya. Makanya cinta itu butuh kita rawat dengan sepenuh hati. Kita akan menyingkirkan atau minimal meminimalisir hal-hal yang membuat cinta akan terganggu pertumbuhannya (seperti penanam [adi tentu dia akan me
MEMANEN CINTA
Nah, setelah kita menyemai, menanam, memupuk dan merawat cinta dengan penuh kehati-hatian, dengan penuh rasa cinta maka kita akan otomastis bisa memanen cinta tersebut di sekeliling kita. Ketika orang-orang di sekeliling kita telah memberikan cintanya pada kita, tentunya kita akan menjadi manusai paling bahagia. Karena dimanapun kita berada, kapan pun kita berada dan dalam kondisi bagaimana pun kita cinta-cinta yang sebelumnya dengan susah payah kita jaga akan hadir ditengah-tengah kita…Selamat merasakan nikmatnya cinta…
KEKUATAN CINTA SANG SUAMI PADA KELUARGANYA
By. Enny Musfiroh Setyarini
Birrul walidain harus senantiasa kita jaga bagaimanapun keadaan kita. Meski jarak fisik memisahkan dengan orangtua, tetapi ikatan hati seorang anak dengan orangtua
serasa begitu kuatnya. Ahamdulillah diera sekarang pun tidak sulit lagi
untuk sering-sering berkomunikasi dengan mereka. Tiba-tiba ingin
kutuliskan ungkapan cinta buat mereka, karena ketulusan cinta yang
diberikannya…
Bapak,
adalah sosok yang luar biasa bagi kami anak-anaknya. Beliau merupakan
anak ke-4 dari 11 bersaudara. Bapak yang sangat perhatian pada
keluarganya, istri dan anak-anaknya. Teringat kembali masa kecil kami,
beliau luar biasa mendampingi kami dalam tumbuh beranjak dewasa. Luar
biasa pula sayang beliau kepada istrinya, ibuku tentunya. Ditengah
kesibukannya harus ngantor pagi-pagi, masih beliau sempatkan untuk
membantu ibu membereskan rumah. Ketika ibu memasak, dari dulu tidak
kulihat bapak asyik duduk-duduk minum teh atau ngopi
sendirian. Beliau memahami betul kerepotan sang istri untuk menyiapkan
sarapan buat anak-anaknya yang akan sekolah, meskipun ibu seorang ibu
rumah tangga. Beliau baru menikmati teh atau kopi yang seringnya hasil
seduhannya sendiri setelah memastikan bahwa sang istri sudah berkurang
kerepotannya.
Dengan
luwesnya tangannya memegang sapu untuk menyapu dan mengepel rumah. Tak
jarang pula beliau turut menyibukkan diri membantu masak ibu. Makanya
tak heran masakan Bapak luar bisasa enaknya, apalagi special membuat
aneka sambal dari sambal terasi, sambal cuka, sambal jenggot kesukaan
kami. Ikan goreng bumbu khas ayah, ayam bacem yang luar biasa dan masih
banyak lagi karya besarnya.
Ketika menyadari ibu lagi sibuk banget dan bapak juga tak kalah sibuk sehingga
gak bisa membantu pekerjaan ibu, dengan rela beliau membeli lauk matang
buat kami. Sampai sekarang pun, ketika lagi dirumah pada badmood gak
mau masak bapaklah yang
pagi-pagi melawan dinginnya pagi membelikan sarapan kami nasi uduk,
karena terlambat sedikit pasti sudah kehabisan. Sampai malu kami karena
kalah rajin dengan Bapak. Dipagi hari beliaulah yang masak air dan
menyeduh teh buat kami. Dan sangat terasa beliau melakukan bukan karena
terpaksa, akan tetapi atas dasar cinta. Terima kasih ayah, semoga kami
bisa membahagiakanmu.
Kami
tahu, engkau telah berusaha untuk menanamkan Islam sejak dini pada
anak-anakmu. Engkau contohkan untuk tahajud, engkau contohkan untuk
senantiasa sholat 5 waktu di masjid dan contoh yang lainnya. Tapi
hidayah memang datang dari Alloh SWT bagi yang dikehendakinya, jadi
engkau pun maklum ketika masih ada anak yang belum sesuai dengan
harapanmu. Tapi aku tahu, lantunan do’amu tidak pernah berhenti
mendo’akan agar kami senantiasa mendapatkan hidayah dari Nya.
Terlantun do’a untukmu ayah
Semoga Allah senantiasa memberikan umur panjang, sehingga senantiasa bisa menebar cinta untuk keluarga dan masyarakat. Semoga
kami bisa mewarsi apa yang telah engkau teladankan pada kami meski
belum taraf sempurna. Semoga cita-cita yang masih senantiasa tersimpan
untuk menyempurnakan rukun
Islam suatu saat akan terwujud. Do’akan kami suatu saat bisa
menghajikanmu ayahku. Karena aku tahu sebenarnya engkau tunda rencana ke
baitullah karena sayangmu pada kami anak-anaknya, kau rela menunda agar
kami bisa terus sekolah menjadi sarjana.Love you my father…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar