Muhasabah

MAHALNYA SEBUAH HIDAYAH

By Enny Musfiroh Setyarini

Saudaraku yang senantiasa memuliakan dan Insya Alloh dimuliakan Alloh SWT, setelah merenung untuk beberapa saat, tentu saat ini kita mengingat betul kapan kita mulai merasakan hidayah itu datang pada diri kita. Hidayah untuk beriman dan berislam secara kaffah, yang merupakan jalan yang ditunjukkan Alloh SWT menuju syurgaNya. Tentu kita sangat dan sangat berharap hidayah itu senantiasa melekat dalam diri kita sampai ajal menjemput dan kita menghadap padaNya.

Saudaraku, mari kembali merenung, betapa banyak orang-orang disekeliling kita yang tidak seberuntung kita (sehingga kita semakin bersyukur padaNya yang telah memberikan kasih sayang sehingga hidayah ini masih berpihak pada kita semua). Memang Alloh lah yang memberikan hidayah pada orang yang dikehendakinya. Kita ingat kembali perjalanan Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada umuatnya, meskipun sekian masyarakat mengikuti seruan beliau untuk mentauhidkan Alloh SWT akan tetapi masih ada kerabat dekat beliau yang enggan mengikuti jalan yang lurus tersebut karena belum turunnya hidayah dari Alloh SWT. Seperti yang Alloh SWT firmankan dalam Al Qur’an berikut :
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat member petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Alloh member petunuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS Al Qassas: 56).

Dalam perjalanan mengarungi hidup dan mempunyai sahabat yang banyak, aku semakin bisa melihat dan mengambil pelajaran dari realita yang ada. Karena hanya Alloh lah yang bisa memberikan hidayah. Orang yang dulu menjadi pembimbingku dalam menuju hidayahNya pun bisa menjadi orang yang jauh dari nilai keislaman yang dulu pernah disampaikan padaku. Nau’dzubillahi min dzalik. Tapi banyak pula sahabat yang dulu sangat jauh dari islam, sekarang menjadi orang yang taat, tawadhu’ dan komitmen dengan keislamannya, Alhamdulillah. Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan keistiqamahan padaku dan pada mereka.
 “Dan hak Alloh menerangkan jalan yang lurus, dan diantaranya ada jalan yang menyimpang. Dan jika Dia menghendaki, tentu Dia memberi petunjuk kamu semua (ke jalan yang benar) (QS An Nahl : 9).

Semoga kita masih merasakan hidayah itu dalam diri masing-masing, senantiasa menjaga agar hidayah itu tidak hilang dari diri kita, dan senantiasa menguatkan diri dan sesama untuk saling menjaga dan menguatkan.
Saudaraku yang sholeh/ah….bagaimana dengan yang Anda rasakan ?? Apakah anda mempunyai pengalaman unik dalam memperoleh hidayah tersebut? Silahkan berbagi disini agar kita bisa mengambil pelajaran dari kisah teladan para sahabat kita…….

 

 

 

 

 

MENUMBUHKAN MURAQABATULLAH

By. Enny Musfiroh Setyarini

Bahagianya kita diberikan karunia Alloh SWT berupa keteguhan dalam beriman dan berislam. Perjalanan panjang telah kita lewati dan semakin menguji keistiqamahan kita dalam mempertahankan karunia yang besar tersebut.

Saudaraku fillah…kita hidup ini tentunya penuh dengan pengawasan orang lain. Kita sebagai anak selalu dalam pengawasan orangtua, kita sebagai murid selalu dalam pengawasan guru kita, dan kita sebagai seorang karyawan selalu dalam pegawasan atasan kita. Bagaimana rasanya ketika kita bekerja di kantor, atasan kita mengawasi kita dengan ketat, segala gerak gerik kita diperhatikannya….maka kita pun akan merasa grogi, deg-degan dibuatnya. Kita takut ketika apa yang kita kerjakan salah dan membuat marah atasan kita. Sehingga kita pun ingin memberikan yang terbaik bagi atasan kita dengan memberikan karya yang bisa memuaskan atasan kita.

Saudaraku fillah…mari kita kembalikan kondisi kita, siapapun kita termasuk didalamnya atasan kita, presiden kita dan semua yang ada di dunia ini juga tidak terlepas dari pengawasan Alloh SWT (yang disebut dengan Muraqabbatullah), dzat yang memiliki kita. Dimanapun kita berada Alloh SWT akan senantiasa mengawasi gerak-gerik kita. Kita ingat kembali kisah teladan dari Khalifah Umar Bin Khatab ra. Sebagai seorang khalifah beliau sangat amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia ingin memastikan bahwa kondisi masyarakatnya dalam keadaan baik. Maka pada suatu malam yang kelam, ketika waktunya orang tertidur denga pulasnya beliau mengadakan ronda malam keliling rumah penduduk.

Dari kejauhan beliau melihat masih ada rumah dengan lampu yang terang benderang. Maka kakinya pun ia langkahkan kesana. Karena mendengar pembicaraan dari dalam, beliau mencoba mendengarkan apa gerangan yang sedang dibahas mereka. Dan akhirnya pun bisa diketahui bahwa dirumah tersebut tinggallah seorang ibu dengan anak gadisnya yang sedang mempersiapkan barang daganagn untuk besok berupa susu. Mereka menuang-nuangkan susu ke dalam wadah. Sang Ibu berkata, “Hai anakku, mengapa tidak kau campur saja susu ini dengan air tawar?? Dengan demikian kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, toh orang-orang yang membeli pun tidak akan mengetahuinya karena dengan ditambah sedikit air tidak akan merubah rasa susu ini”. Dengan halus sang anak menolak permintaan ibu, “Ibu sayang meskipun tidak ada orang yang melihat dan ,engetahui perbuatan kita, sesungguhnya Alloh pasti tahu kan?”. Subhanallah….Umar bin Khatab sangat berkesan dengan jawaban anak perempuan itu, sampai beliu pun menitikkan air mata.
Saudaraku….sudahkah kita menanamkan nilai muraqabbatullah tersebut dalam diri kita ? Kalau kita melihat kondisi di sekitar kita, sangat berkebalikan dengan kisah ibu dan anak penjual susu seperti diatas. Sekarang, para pedagang akan melakukan apa saja yang membuat keuntungan dagangannya bisa berlipat-lipat. Penjual bakso akan menambahkan formalin agar baksonya lebih tahan lama dan tak jarang yang mencampuri daging dengan daging yang haram. Pedagang es mengaku memakai gula untuk memberikan rasa manisnya, padahal memakai pemanis buatan yang berbahaya bagi tubuh kita. Pedagang daging di pasar menjual daging gelonggongan untuk mendapat hasil lebih banyak dengan menipu pembeli. Dan masih banyak lagi, tidak akan cukup kalau kita menyebutkan satu persatu. Dari gambaran contoh diatas, mereka secara terang-terangan merasa tidak takut dengan sesama maupun dengan Rabbnya.

Saudaraku fillah…ingatlah sesungguhnya Alloh SWT mengawasi langsung terhadap apa yang terbersit dalam diri kita, terucap dalam lisan kita dan segala perbuatan kita. Selain itu, Alloh SWT juga mengutus malaikatnya untuk senantiasa mencatat segala amal perbuatan kita, untuk menjadi bukti kelak di pegadilan Alloh SWT. Dan ingatlah kembali bahwa nanti di pengadilan yang penuh keadilan kelak, semua anggota tubuh kita akan mencritakan sendiri terhadap apa yang telah dilakukannya. Hanya mulut sajalah yang yang tidak menjadi saksi, karena diakherat mulut akan terus mencoba melakukan pembelaan diri…tapi Subhanallah ….bukti-bukti yang Alloh miliki sebelum Dia menjatuhkan hukuman pada hambanya sudah sangatlah jelas. Alloh SWT mengawasi langsung, melalui dokumen catatan amal dari malaikat da juga kesaksian anggota tubuh kita.

Saudaraku…ketika kita menyadari sepenuhnya tentu kita menginginkan kelak raport kita adalah raport dengan nilai yang sangat memuaskan… Insya Alloh ketika kita menghiasi diri kita dengan muraqabbatullah, kita akan semakin hati-hati dalam berucap dan bertindak, agar kita tidak melakukan kesalahan yang berakhibat fatal. Perlu latihan memang untuk senantiasa bisa menghadirkan perasaan bahwa kita selalu diawasi Alloh SWT. Marilah kita berlatih terus dan menanamkan nilai muraqabbatulah dengan penuh cinta. Dan ketika muraqabbatullah telah hadir dalam diri kita maka Insyaallah kita akan menjadi pribadi-pribadi yang istiqamah, pribadi yang jujur dan amanah dan pribadi yang ikhlas. Ingatlah “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Alloh SWT.” Mari kita berlomba untuk menanamkan muraqabbatullah dalam diri kita, dengan cinta bukan karena terpaksa. Karena kita sebagai hambaNya cinta pada Ridhanya, karena kita merindukan syurganya. Wallahua’lam bishawab.


MONOLOG SAUDARIKU,,, TERSENYUMLAH DI SYURGA NYA SUAMIKU,,,,

By. Enny Musfiroh Setyarini


“Saya rasanya masih gak percaya Mbak mengingat kejadian naas yang menimpa suamiku… Kejadian begitu tiba-tiba…”
Habis melaksanakan sholat Jum’at beliau (alm) menyiapkan segala sesuatu keperluan untuk acara temu tokoh di daerah pemilihan V (pegunungan) yang rencananya akan dilaksanakan Sabtu pagi... Karena beliau memang caleg no 1 (putra asli daerah yang sekarang tinggal di kota kabupaten karena usahanya). Beliau kesana kemari mengumpulkan atribut dan perlengkapan lain. Kemudian setelah asyar beliau bertemu dengan temen-temen DPD (yang menurut pengakuan temen-temen di DPD masih sempet bercanda dengan mereka).

Habis magrib…hujan mulai turun, ada temen yang menyarankan agar beliau ikut rombongan mobil saja karena takut hujan gak reda-reda (dengan halus alm menolak karena beliau pasti pusing kalau naik mobil, pergi jauh pun beliau terbiasa menggunakan sepeda motor).
Sebelum berangkat…saya masih membuatkan ramuan khusus untuk stamina beliau (madu campur telur kampung yang memang rutin di konsumsi apalagi saat acara padat). Setelah hujan agar reda beliau berangkat menggunakan sepeda motor (perjalanan yang harus ditempuh sekitar 2 jam).

 “Saat itu pukul delapan lebih dikit….saya mendengar ada telepon yang mangabarkan kalao suamiku kecelakaan (aku tidak dikabari kabar yang sesungguhnya apa yang telah terjadi). Akhirnya setelah dijemput temen DPD saya dan keluarga berangkat… Shok saya Mba….Shok…Shok…ketika menemuai suamiku yang sudah terbujur kaku.”
Reflek aku peluk suamiku, aku cium, aku panggil-panggil…aku berharap akan ada keajaiban sehingga suamiku bisa bersamaku lagi… lalu beberapa saat akau tidak tahu apa yang terjadi (karena kata orang disekitarku aku sempat beberapa kali pingsan)….
Akhirnya diputuskan jenazah dimakamkan di kota kabupaten… Saya masih terus menangis—menangis sampai air mata ini kering… Aku sampai menahan ketika jazad suamiku akan dimandikan…aku belum siap ditinggalkannya…
Itulah mbak….saat-saat yang membuatku terpukul… Kami baru satu tahun bersama dalam rumah tangga ini… Tapi akhirnya aku menyadari bahwa tiap diri ini hanya lah milik Alloh SWT. Saatnya aku harus bangkit….bangkit…dan bangkit….

TO SUADARIKU DISANA : KEEP HAMASAH….TERUSKAN CITA-CITA PERJUANGAN ALMARHUM UNTUK MENUMBUH SUBURKAN DAKWAH DI MUKA BUMI INI… SEGENAP PENGURUS DPD PKS GOWA SANGAT KEHILANGAN SALAH SATU MUJAHID DAKWAH TERBAIKNYA… 

MUDAHKAN MENJADI MURABBI??


By. Enny Musfiroh Setyarini



Awal-awal tarbiyah saat SMA waktu itu, seringkali membuat aku terbengong-bengong ketika murabbi/yahku menyampaikan materinya. Muncul kesalutan disana, beliau yang kuliah bukan di jurusan agama bisa menyampaikan materi yang begitu mengena. Perjalanan menjadi mutarabbi membuat ane akhirnya termotivasi untuk bisa menjadi seperti murabbi/yah ane.
Dan ternyata setelah melewati perjalanan panjang, belajar dan terus belajar baru deh bisa merasakan ternyata indah menjadi seorang murabbi/yah. Dengan menjadi seorang murabbi/yah, kita dituntut untuk memiliki kelebihan dibandingkan mutarabbi kita. Kalau kita tidak ada sisi kelebihannya, apa yang akan kita berikan kepada mutarabbi kita?? Paling tidak kita mesti memiliki sesuatu yang bisa kita berikan kepada mutarobbi kita, bisa ilmu, pengalaman, perhatian, waktu, ataupun bantuan harta (bila ada). Sebagaimana peribahasa arab wafaqidus sya’i laa yu’tih.

Dengan menjadi murabbi, kita juga dituntut untuk senantiasa memperbaiki kualitas keimanan kita, sehingga ketika menyampaikan materi yang berasal dari hati akan mudah diterima dan direalisasikan oleh mutarabbi.
Sebagai orang yang sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu pulau ke pulau lain… Banyak hal yang kudapatkan. Begitu terasa dalam diri ini betapa besarnya manfaat ikut dalam halaqoh. Baik sebagai murobbi/yah maupun sebagai mutarobbi. Di tempat baru yang masih belum dikenal serta tidak ada kerabat maupun kawan, terasa sekali betapa halaqoh itu begitu indah dan bermanfaat. Dimana pun berada walaupun baru beberapa hari tinggal di suatu kota begitu bergabung dengan halaqoh terasa sekali kita memiliki keluarga. Keluarga besar (6-12 orang) dengan latar belakang yang begitu beragam. Ada yang PNS, pengusaha, guru, kontraktor, pedagang, ahli IT, ahli keuangan, ahli agama, ibu rumah tangga dsb. Sehingga saat ada permasalahan dalam hidup kami, bisa saling berdiskusi tuk cari pemecahannya.

Begitu juga saat menjadi murobbi/yah. Terasa benar kita memiliki keluarga, saudara2 yang berkomitmen untuk menjalin ukhuwah islamiyah. Saling mengingatkan dan menguatkan dalam keimanan dan takwa. Di sinilah ikatan hati begitu terasa dan menentukan. Saat kita sudah saling mengenal dan memahami, saling mendengar dan memberi perhatian, serta saling berempati dan membantu, maka ikatan hati pun akan mulai terbina. Di saat itulah, pertemuan liqo terasa dirindukan oleh semua. Karena dengan liqo itu masing2 bisa saling curhat dan berbagi, bertemu dengan orang2 yang sama2 saling mencintai karena Allah.
Di sinilah peranan murobbi/yah begitu penting tuk memunculkan adanya ikatan hati (ta’liful qulub) di antara sesama mutarobbi dan murobbi. Sebenarnya tidaklah sulit tuk mengkondisikannya. Yang penting adalah adanya curahan perhatian serta waktu, adanya kepedulian serta empati. Jangan lupa untuk senantiasa megirim sms ke seluruh mutarobbi kita tuk mengingatkan tentang pertemuan liqo serta agenda2 yang telah disepakati. Jangan lupa juga untuk memberi perhatian dan kepedulian kepada mutarobbi yang sedang sakit atau kena musibah. Bisa berupa sms, telpon, menjenguk sampai pada bantuan dana (munasharah). Sangatlah tidak baik jika ada mutarobbi sakit, sang murobbi/yah tidak ada kepedulian sama sekali. Haruslah dihindarkan juga murobbi/yah tidak menepati kesepakatan yang telah dibuat. Misal mudah untuk ijin tidak hadir dalam pertemuan liqo, atau sering terlambat. Hendaklah murobbi menjadi yang selalu datang tepat waktu saat liqo. Begitu juga tentang kesepakatan lainnya, misal rihlah bersama, riadhoh dan acara2 lainnya. Jangan mudah tuk membatalkan dan membiarkan mutarobbi yang sudah susah2 meluangkan waktunya tuk menepati kesepakatan tersebut dikecewakan karena mudahnya murobbi/yah terlambat bahkan tidak datang. Kalaupun ada kondisi yang darurat, janganlah lupa tuk segera memberitahukannya dengan jelas kepada mutarobbi kita. Ikatan hati juga bisa lebih terjalin saat murobbi selalu menjadi orang yang peduli dan memberi perhatian penuh kepada mutarobbinya. Sehingga mutarobbi merasakan murobbi mereka adalah ayah, guru, kawan, serta saudara yang baik baginya.

Setelah ikatan hati terjalin, maka ikatan halaqoh menjadi begitu indah. Pertemuan2 pun menjadi pertemuan yang senantiasa dirindukan, bukan sebuah beban dan keterpaksaan. Saat itulah murobbi harus pandai2 tuk mengelola halaqoh. Halaqoh harus bisa dibuat bervariatif, kadang ada bedah buku, diskusi tematik misal tentang keluarga, mabit, rihlah dan tadabur alam, silaturahmi tokoh, saling mengunjungi dsb. Bila hal itu bisa berjalan, maka kejenuhan dalam liqo bisa terhindarkan. Yang juga penting dalam liqo, adanya muatan amar ma’ruf dan nahi munkar di sana. Janganlah bosan tuk mengingatkan mutarobbi dalam amal yaumiyah mereka. Karena sesungguhnya tujuan utama murobbi/yah membina mutarobbinya adalah dalam rangka pembinaan kehidupan berIslam mereka. Tentu di sini perlu keteladanan dari murobbi/yah.

Mungkin dari uraian di atas sebagian jadi berpendapat kok nampaknya susah ya tuk menjadi murobbi. Bisa jadi begitu, kalo kita memandangnya susah. Tapi kalo kita memandangnya itu sebagai sebuah kerja yang mulia dengan pahala surganya, maka hal-hal di atas tidaklah berat. Kunci pokoknya adalah perhatian dan kepedulian sehingga memunculkan ikatan hati, kemudian saling amar makruf nahi munkar dengan keteladanan dari murobbi/yah. Yang terakhir ini sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri karena justru akan membawa kita tuk senantiasa istiqomah di jalan-Nya. So, apa yang susah??? Setiap jalan kebaikan pasti akan ada ujian dan cobaannya, begitupun jalan para murobbi/yah. Maka, jika setiap kesulitan dan kendala dalam melakoninya dirasakan sebagai ujian dan cobaan dari Allah, maka akan terasa nikmat dan berpahala.

Tidak ada komentar:

SEHAT vs SAKIT

Untuk sahabat yang masih diuji dengan sakit, dan sedang berjuang menjemput sehat. Semoga Allah SWT senantiasa teguhkan dan lipatkan kesabara...