Kamis, 05 November 2009

MENGGUSUR TANPA CINTA

By. Enny Musfiroh Setyarini


Kemarin ketika pulang dari suatu urusan, kami bermaksud singgah di kedai Kolak Duren yang biasanya mangkal di pinggiran kampus USU. Begitu memasuki jalan Mansyur, mata kami mulai mencari-cari…. Agak heran juga, karena biasanya banyak sekali penjual yang berjajar di pinggiran jalan di depan kampus ini. Pemandangan lain yang kudapatkan, terasa lebih sepi dari hari sebelumnya. Setelah beberapa ratus meter kami lalui, barulah kami menemui penjual kolak duren yang kami maksud. Setelah memesan 2 mangkok, kami menikmati kolak yang nyammi tersebut sambil membuka percakapan dengan penjualnya, seorang perempuan berjilbab yang kira-kira berusia 50 tahun.

Beliau ternyata seorang janda yang telah ditinggal suaminya sejak tahun 1982. Sudah 27 tahun menjanda. Menurut penuturan beliau saking cintanya kepada suaminya, perempuan itu menutup hatinya untuk laki-laki lain, meskipun banyak laki2 yang mencoba merebut kembali hatinya. Dan selam itu pula dia membesarkan anak-anaknya dengan tanggannya sendiri. Berjuang keras berjualan dawet, kolak dan aneka minuman lain akhirnya dia membesarkan anak-anaknya meskupun rata-rata cuman sampai SMP dan SMA.

Ketika aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kok kondisi hari itu berbeda dengan hari sebelumnya, terlihat sepi, dia menuturkan bahwa sudah beberapa hari ini para pedagang kejar-kejaran dengan kepling (kepala lingkungan). Intinya pedagang dilarang berjualan disekitar kampus karena bulan-bulan ini aka ada penilaian Adipura. Para pedagang pun siaga satu dan tidak tenang saat berjualan, ketika kepling datang mereka segera membereskan dagangan dan memacu sepeda motornya. Tapi mereka kan kembali lagi ketika kepling dah lewat. Menurut ibu itu, dia pernah mencoba untuk berjualan di tempat lain, tetapi dagangan kurang laku. Ibu tersebut terus saja menyampaikan unek-uneknya, intinya si ibu kecewa dengan pemerintah yang dengan seenaknya menggusur…padahal sudah puluhan tahun mereka berjualan disitu dengan aman. Omsetnya pun semakin hari semakin meningkat seiring dengan semakin padatnya sekitar kampus tersebut.

Yah…pemerintah menggusur tanpa cinta pada rakyatnya. Ketika dia masih mempunyai cinta dengan rakyatnya tentu dia akan melakukan yang terbaik untuk rakyatnya. Ketika memang mereka ingin menggusur, tentunya pemerintah akan merelokasi ke tempat yang memang trategis buat berjualan kembali. Pemerintah harusnya bangga karena mempunyai masyarakat yang mempunyai semangat hidup untuk bisa mandiri dengan berjualan. Kalau mereka (pedagang) putus asa karena harus selalu kejar-kejaran dengan petugas kemudia mencari jalan apa pun ntuk bertahan hidup (misal dengan manjadi pengemis dan pencuri)..maka siapa yang lebih repot??? Bahkan sempat terlontar dari ibu itu dia menyumpahi bahwa “gak mungkin daerah ini akan mempeoleh Adipura… Kami masyarakat yang didhilimi sangat tersakit. Menjadi korban demi untuk mendapatkan penghargaan. Kami tidak senang denga adipura2, kami lebih senang jika bisa berjualan dengan tenang tanpa gusuran agar bisa bertaha hidup.” Subhanallah …para pemimin harus berbuat lebih bijak terhadap rakyatnya, terutama nasib orang kecil seperti mereka…..

1 komentar:

Fath mengatakan...

Ini pasti pas pergi brg bu monthe ya? Wah, lg2 aku gak diajak jalan nih.

SEHAT vs SAKIT

Untuk sahabat yang masih diuji dengan sakit, dan sedang berjuang menjemput sehat. Semoga Allah SWT senantiasa teguhkan dan lipatkan kesabara...