Selasa, 14 November 2017

SALAHKAH DO'AKU ? (part 10)


By Enny Musfiroh Setyarini

"Bagaimana Mbak, kondisinya sekarang ?", setelah maghrib dokter jaga IGD kembali menyambangi ranjang Rena.

"Alhamdulillah Dokter, udah jauh lebih baik setelah minum obat dan terus di kompres sama adik cantikku ini. Pusing sudah perlahan mulai berkurang. Hanya pipi saya nieh Dok yang masih mengerikan sama kaki yang lecet masih perih. Saya boleh pulang kan, Dok? ", sahut Rena sambil melirik Haula.

"Boleh saja sieh, ngga ada yang mengkhawatirkan kok, nanti saya resepkan obat dan tetap kompres pipinya dirumah yaa."

"Alhamdulillah", sahut Rena dan Haula hampir bersamaan.

"Baik dokter, terima kasih banyak atas perhatian dan bantuannya, permisi saya ke bagian administrasi dulu", Haula mohon diri meninggalkan sesi pemeriksaan itu.

Haula segera beranjak ke bagian adminiatrasi, dia bermaksud meminjam telefon agar bisa mengabarkan ke ibu kost dan juga meminjam sementara uang untuk membayar RS. Yaa, karena uang atau pun atm mereka ada di jok motor yang entah di mana sekarang posisinya. Ibu kost memang sudah berpesan untuk menganggap beliau sebagai ibu sendiri. Jadi kalau ada apa-apa diminta menyampaikan ke beliau.

"Assalamu'alaikum. Permisi suster,  bolehkan saya pinjam telefon sebentar untuk berkabar ke family?. Ini teman saya yang tadi siang masuk IGD sudah diperkenankn pulang. Saya tidak bawa hp, Sus", sapa Haula saat menemui suster yang berjaga.

"Ooh boleh, silahkan Mbak", suster dengan ramah menyodorkan telefon kantor.

Beruntung sekali ibu kost sudah pulang dari Sukabumi. Haula merasakan kegagetan dari ibu kost, setelah mendengar kejadian yang barusan dikabarkannya. Beliau menenangkan Haula agar menunggu kedatangannya karena Bapak kost belum pulang dari jamaah sholat Isya.

"Beres Mbak, kita akan segera pulang", sahut Haula begitu dia kembali ke ranjang Rena.

"Beres gimana Dek, kita bayar RS gimana dong?", Rena nampak panik.

"Tenang Mbak, Haula udah dapat hutangan dan tumpangan, sebentar lagi juga sampai".

"Hutang ke siapa Dik, jangan sampai menggadaikan diri lho yaa", canda Rena yang masih gemes dengan adik kostnya yang belum cerita seutuhnya.

"Rahasia deh yaa, ntar bisa lihat sendiri, siapakah dia? Tunggu beberapa saat lagi".

"Udah mbak, habiskan tuh jatah makannya. Kalau ngga habis ntar ngga jadi boleh pulang lho yaa".

"Wah, kita jadi anak kembar yaa Mbak. Pinter bener pemuda ganteng tadi milihin baju buat kita. Lumayan dah dapat hadiah nomplok gamis dan jilbab cantik ini. Sayang bener Haula ngga nanyain nomor hp nya", celoteh Haula sambil membereskan baju basahnya agar tidak tertinggal.

"Udah ah, makin ngaco nanti omongannya".

Jam sembilan kurang lima menit, ibu dan  bapak kost pun datang. Haula bersama bapak ibu kost berjalan menuju meja administrasi untuk membayar tagihan rumah sakit.

Jika tadi saat Haula pinjam telefon hanya seorang yang jaga, kali ini dia mendapati ada dua orang wanita yang jaga.

"Malam Suster, Alhamdulillah kami sudah diperbolehkan pulang. Berapa yang harus kami bayar Sus?", Haula membuka perbincangan dengan ramah.

"Tidak ada yang perlu dibayarkan, Mbak. Ini uangnya masih sisa banyak. Saya kembalikan sisanya yaaa. Ini uang dan tanda terimanya udah saya masukkan di amplop", suster menyodorkan amplop putih tebal kepada Haula.

"Maksudnya gimana suster, mungkin suster salah orang. Karena beliau ini yang tadi saya telefon untuk membereskan administrasi", Haula meyakinkan dengan menunjuk bapak dan ibu kostnya.

Haula baru paham setelah mendapat penjelasan dari suster yang tadi menerima amanah dari pemuda penolong itu.

Setelah menerima amplop dan berterima kasih, bertiga kemudian menuju IGD untuk menyerahkan berkas pelunasan administrasi.

Segera ibu kost dan Haula memapah Rena yang kakinya masih berasa nyeri berjalan menuju mobil, dan disusul  Bapak kost yang membawakan kresek berisi baju basah mereka.

Di dalam mobil Haula membuka amplop yang diterima dari suster. Uang senilai Rp. 4.050.000, dan kwitansi senilai Rp. 950.000. Terselip pula kartu nama, yang dibaliknya tertulis "motor anti aman".

Haula menyodorkan kartu nama itu kepada Rena.
Mata Rena membelalak melihat sebuah nama yang tertulis,,,

#30DWC
#30DWCday21
#squad9
#serialrena

Tidak ada komentar:

SEHAT vs SAKIT

Untuk sahabat yang masih diuji dengan sakit, dan sedang berjuang menjemput sehat. Semoga Allah SWT senantiasa teguhkan dan lipatkan kesabara...