Selasa, 14 November 2017

KETIKA PESTA BERDIRI MENJADI TRADISI DI NEGERI INI


By Enny Musfiroh Setyarini

Hari Sabtu kemarin, kami ada undangan pernikahan anak tetangga. Acara pernikahannya tidak diselenggarakan di rumah, tetapi di sebuah gedung di Jakarta. Di undangan tertera pukul 11.00-13.00 WIB, seperti halnya undangan pada umumnya di gedung yang biasanya hanya berdurasi 2 jam.

Sengaja kami datang di jam 11 siang, karena ingin melihat acara "pedang pora". Acara ini keren, sampai saya pun meneteskan air mata. Sudah tahu kan apa itu acara pedang pora? Pedang Pora  adalah tradisi pernikahan bagi perwira militer. Prosesi itu dilaksanakan dalam rangka melepas masa lajang perwira yang diiringi dengan rangkaian pedang berbentuk gapura. Dengan kata lain itu merupakan sebuah penghormatan bagi perwira yang akan memulai hidup baru dalam bahtera rumah tangga.

Syahdu dan terharu,  pengantin akan melewati gapura yang berupa pedang yang dibuat oleh 6 pasang perwira. Mereka yang bertugas ini adalah perwira yunior yang berjumlah 12 orang, dengan seragam lengkap dengan atribut. Setelah melewati gapura dari pedang, kemudian akan dihadapkan komandannya. Di bagian  ini yang bikin meleleh, setelah resminya sang isteri menjadi keluarga besar TNI, dia akan mengucapkan janji, wajib mendukung penuh tugas suaminya.

Mau cerita tentang pesta berdiri  malah lari ke pedang pora yaa, karena sangat berkesannya.

Saat ini, semakin jarang kita menemui konsep walimahan yang ada kursinya yaa. Dimana-mana konsepnya standing party. Ya, seperti yang kami alami kemarin juga, di ruangan gedung tersebut hanya sedikit di sediakan kursi yang hanya khusus untuk keluarga mempelai.

Kami termasuk yang tidak biasa makan sambil berdiri, terasa aneh karena bertentangan dengan kebiasaan sehari-hari. Dan biasanya saat standing party pun kami menemui tamu lain yang punya prinsip sama. Sehingga kami harus melipir dulu, nyari tepat di manapun agar bisa duduk. Kadang di pinggiran tembok, kadang nyempil di kursi keluarga mempelai. Bahkan kemarin karena tidak mendapati tempat,  kami sedikit melangkahkan kaki keluar gedung dan duduk di dekat team catering yang sedang mengoven zuppa sup.

Dalam hadis, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata, “Bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Meskipun demikian, di beberapa hadist pernah diceritakan Rasulullah pernah minum air zam-zam saat berdiri. Terlepas dari hukum, kalau kita komparasikan dengan ilmu kesehatan, ternyata ada nilai yang luar biasa dibalik posisi saat kita makan ini.

Pernah membaca dalam tinjauan kesehatan juga, ternyata makan dan minum sambil berdiri memiliki efek yang buruk untuk kesehatan tubuh kita. Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani mengatakan, “Minum dan makan sambil duduk itu lebih sehat, lebih selamat dan lebih sopan. Ini karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus secara perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus dan menabraknya dengan keras".

#30DWCjilid9
#30DWCday26
#squad9

Tidak ada komentar:

SEHAT vs SAKIT

Untuk sahabat yang masih diuji dengan sakit, dan sedang berjuang menjemput sehat. Semoga Allah SWT senantiasa teguhkan dan lipatkan kesabara...