By Enny Musfiroh Setyarini
Rena terkejut dengan sebuah nama yang tertulis di kartu nama yang disodorkan oleh Haula. Sebuah nama yang persis tertulis di biodata yang beberapa saat yang lalu diserahkan oleh guru ngajinya. Yusuf Maulana. Rena memang belum pernah bertemu secara langsung dengannya, karena ta'aruf memang baru akan dilaksanakan 3 hari lagi. Tapi Rena juga tidak mau buru-buru mengambil kesimpulan, apakah ikhwan itu yang akan ta'aruf denganny atau hanya nama yang kebetulan sama.
"Kenapa Mbak, kok aneh gitu ekspresinya, kenal dengan pemuda ganteng itu yaa?", Haula mulai menggoda Rena.
Pembicaraan mereka terputus, saat Bapak kost memamarkirkan kendaraannya di depan Rena. Segera Rena diantarkan Haula dan ibu kost ke dalam kamar kostnya. Setelah memastikan kedua anak kost itu sudah tenang, ibu kost kemudian pamit pulang ke rumah yang hanya bersebelahan.
Haula beranjak ke dapur untuk mengambil mangkok plastik dan washlap. Dia kemudian mengompres pipi Rena yang masih bengkak, sambil menyeduhkan teh panas untuk dinikmati mereka berdua.
"Mbak, mumpung belum larut, Haula telefon pemuda penolong tadi yaa, mau nanyain posisi motor ada dimana".
"Besok pagi saja lah Dek, ngga ahsan malem- malem".
"Baiklah, hayuk Mbak istirahat. Haula tidur di sini yaa. Biar kalau Mbak malam terjaga ingin ke kamar mandi ada yang nganterin".
Tanpa dikomando, Haula mengambil kasur lipat di atas almari Rena. Memang sengaja Rena membeli tambanan kasur lipat karena seringkali temannya ada yang menginap.
Keesokan harinya, Haula pun menghubungi nomor telefon yang tertera di kartu nama itu untuk berterima kasih dan menanyakan posisi motornya. Dan yang lebih penting mau segera mengambil hp dan dompet. Rena dan Haula bermaksud akan segera mengembalikan uang lima juta rupiah yang waktu itu dititipkan pemuda ke administrasi rumah sakit. Akhirnya terjadi kesepakatan, motor akan diantarkan setelah maghrib karena pagi ini terlanjur dimasukkan ke bengkel. Tentu saja Haula tidak lupa memberikan alamat.
Tepat saat Haula melantunkan tilawahnya, bel kost berbunyi. Haula buru-buru merapikan jilbabnya dan lari ke teras menemui tamunya. Sementara Rena tetap terbaring di kamarnya. Dua pemuda penolong itu datang. Yang satu mengendarai motor Haula, sedangkan yang satunya dengan serenanya.
"Assalamu'alaikum", sapa kedua pemuda itu.
"Wa'alaikumussalam", jawab Haula dari balik pintu yang terbuka.
"Afwan ukh, ini kunci motornya. Isi jok masih lengkap di joknya. Tadi motor kami bawa ke bengkel karena lampu riting sebelah kiri pecah. Yang lain Alhamdulillah tidak ada kerusakan serius", salah satu dari mereka membuka pembicaraan serta menyodorkan kunci.
"Alhamdulillah, syukron wa jazakumullah khairan atas pertolongan dan kebaikan antum, sungguh kami hutang budi dengam antum".
Haula menerima kunci dan kemudian bergantian menyodorkan amplop putih panjang berisi uang sisa dari rumah sakit. Amplop putih itu pun diterima salah seorang pemuda.
"Sebelumnya kami minta maaf, baru bisa mengembalikan sisa pembayaran, karena ATM kami ada di dompet yang tersimpan di jok motor. Mohon dituliskan nomor rekening di sini ya Akhi, insyaallah besok akan kami transfer uang yang terpakai termasuk dana buat beli baju dan bengkelin motor", Haula memohon dan menyodorkan bloknote dan pulpen.
"Ooh ngga perlu diganti Ukh, kami mohon pamit yaa, karena kami ada acara lagi. Semoga antunna lekas sembuh. Assalamu'alaikum", pemuda itu menutup pembicaraan dan bergegas menuju serenanya.
"Wa'alaikumussalam", jawab Haula kebingungan.
#30DWC
#30DWCday23
#squad9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar