KEKUATAN CINTA SANG SUAMI PADA KELUARGANYA
By. Enny Musfiroh Setyarini
Birrul walidain harus senantiasa kita jaga bagaimanapun keadaan kita. Meski jarak fisik memisahkan dengan orangtua, tetapi ikatan hati seorang anak dengan orangtua serasa begitu kuatnya. Ahamdulillah diera sekarang pun tidak sulit lagi untuk sering-sering berkomunikasi dengan mereka. Tiba-tiba ingin kutuliskan ungkapan cinta buat mereka, karena ketulusan cinta yang diberikannya…
Bapak, adalah sosok yang luar biasa bagi kami anak-anaknya. Beliau merupakan anak ke-4 dari 11 bersaudara. Bapak yang sangat perhatian pada keluarganya, istri dan anak-anaknya. Teringat kembali masa kecil kami, beliau luar biasa mendampingi kami dalam tumbuh beranjak dewasa. Luar biasa pula sayang beliau kepada istrinya, ibuku tentunya. Ditengah kesibukannya harus ngantor pagi-pagi, masih beliau sempatkan untuk membantu ibu membereskan rumah. Ketika ibu memasak, dari dulu tidak kulihat bapak asyik duduk-duduk minum teh atau ngopi sendirian. Beliau memahami betul kerepotan sang istri untuk menyiapkan sarapan buat anak-anaknya yang akan sekolah, meskipun ibu seorang ibu rumah tangga. Beliau baru menikmati teh atau kopi yang seringnya hasil seduhannya sendiri setelah memastikan bahwa sang istri sudah berkurang kerepotannya.
Dengan luwesnya tangannya memegang sapu untuk menyapu dan mengepel rumah. Tak jarang pula beliau turut menyibukkan diri membantu masak ibu. Makanya tak heran masakan Bapak luar bisasa enaknya, apalagi special membuat aneka sambal dari sambal terasi, sambal cuka, sambal jenggot kesukaan kami. Ikan goreng bumbu khas ayah, ayam bacem yang luar biasa dan masih banyak lagi karya besarnya.
Ketika menyadari ibu lagi sibuk banget dan bapak juga tak kalah sibuk sehingga gak bisa membantu pekerjaan ibu, dengan rela beliau membeli lauk matang buat kami. Sampai sekarang pun, ketika lagi dirumah pada badmood gak mau masak bapaklah yang pagi-pagi melawan dinginnya pagi membelikan sarapan kami nasi uduk, karena terlambat sedikit pasti sudah kehabisan. Sampai malu kami karena kalah rajin dengan Bapak. Dipagi hari beliaulah yang masak air dan menyeduh teh buat kami. Dan sangat terasa beliau melakukan bukan karena terpaksa, akan tetapi atas dasar cinta. Terima kasih ayah, semoga kami bisa membahagiakanmu.
Kami tahu, engkau telah berusaha untuk menanamkan Islam sejak dini pada anak-anakmu. Engkau contohkan untuk tahajud, engkau contohkan untuk senantiasa sholat 5 waktu di masjid dan contoh yang lainnya. Tapi hidayah memang datang dari Alloh SWT bagi yang dikehendakinya, jadi engkau pun maklum ketika masih ada anak yang belum sesuai dengan harapanmu. Tapi aku tahu, lantunan do’amu tidak pernah berhenti mendo’akan agar kami senantiasa mendapatkan hidayah dari Nya.
Terlantun do’a untukmu ayah
Semoga Allah senantiasa memberikan umur panjang, sehingga senantiasa bisa menebar cinta untuk keluarga dan masyarakat. Semoga kami bisa mewarsi apa yang telah engkau teladankan pada kami meski belum taraf sempurna. Semoga cita-cita yang masih senantiasa tersimpan untuk menyempurnakan rukun Islam suatu saat akan terwujud. Do’akan kami suatu saat bisa menghajikanmu ayahku. Karena aku tahu sebenarnya engkau tunda rencana ke baitullah karena sayangmu pada kami anak-anaknya, kau rela menunda agar kami bisa terus sekolah menjadi sarjana.Love you my father…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar