Minggu, 11 April 2010

Menjadi Murabbi/ah Dengan Penuh Cinta

By. Fathen/ Fathoni Een (11042010)


Awal-awal tarbiyah saat SMA waktu itu, seringkali membuat aku terbengong-bengong ketika murabbi/yahku menyampaikan materinya. Muncul kesalutan disana, beliau yang kuliah bukan di jurusan agama bisa menyampaikan materi yang begitu mengena. Perjalanan menjadi mutarabbi membuat ane akhirnya termotivasi untuk bisa menjadi seperti murabbi/yah ane.

Dan ternyata setelah melewati perjalanan panjang, belajar dan terus belajar baru deh bisa merasakan ternyata indah menjadi seorang murabbi/yah. Dengan menjadi seorang murabbi/yah, kita dituntut untuk memiliki kelebihan dibandingkan mutarabbi kita. Kalau kita tidak ada sisi kelebihannya, apa yang akan kita berikan kepada mutarabbi kita?? Paling tidak kita mesti memiliki sesuatu yang bisa kita berikan kepada mutarobbi kita, bisa ilmu, pengalaman, perhatian, waktu, ataupun bantuan harta (bila ada). Sebagaimana peribahasa arab wafaqidus sya’i laa yu’tih.

Dengan menjadi murabbi, kita juga dituntut untuk senantiasa memperbaiki kualitas keimanan kita, sehingga ketika menyampaikan materi yang berasal dari hati akan mudah diterima dan direalisasikan oleh mutarabbi.
Sebagai orang yang sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu pulau ke pulau lain… Banyak hal yang kudapatkan. Begitu terasa dalam diri ini betapa besarnya manfaat ikut dalam halaqoh. Baik sebagai murobbi/yah maupun sebagai mutarobbi. Di tempat baru yang masih belum dikenal serta tidak ada kerabat maupun kawan, terasa sekali betapa halaqoh itu begitu indah dan bermanfaat. Dimana pun berada walaupun baru beberapa hari tinggal di suatu kota begitu bergabung dengan halaqoh terasa sekali kita memiliki keluarga. Keluarga besar (6-12 orang) dengan latar belakang yang begitu beragam. Ada yang PNS, pengusaha, guru, kontraktor, pedagang, ahli IT, ahli keuangan, ahli agama, ibu rumah tangga dsb. Sehingga saat ada permasalahan dalam hidup kami, bisa saling berdiskusi tuk cari pemecahannya.

Begitu juga saat menjadi murobbi/yah. Terasa benar kita memiliki keluarga, saudara2 yang berkomitmen untuk menjalin ukhuwah islamiyah. Saling mengingatkan dan menguatkan dalam keimanan dan takwa. Di sinilah ikatan hati begitu terasa dan menentukan. Saat kita sudah saling mengenal dan memahami, saling mendengar dan memberi perhatian, serta saling berempati dan membantu, maka ikatan hati pun akan mulai terbina. Di saat itulah, pertemuan liqo terasa dirindukan oleh semua. Karena dengan liqo itu masing2 bisa saling curhat dan berbagi, bertemu dengan orang2 yang sama2 saling mencintai karena Allah.

Di sinilah peranan murobbi/yah begitu penting tuk memunculkan adanya ikatan hati (ta’liful qulub) di antara sesama mutarobbi dan murobbi. Sebenarnya tidaklah sulit tuk mengkondisikannya. Yang penting adalah adanya curahan perhatian serta waktu, adanya kepedulian serta empati. Jangan lupa untuk senantiasa megirim sms ke seluruh mutarobbi kita tuk mengingatkan tentang pertemuan liqo serta agenda2 yang telah disepakati. Jangan lupa juga untuk memberi perhatian dan kepedulian kepada mutarobbi yang sedang sakit atau kena musibah. Bisa berupa sms, telpon, menjenguk sampai pada bantuan dana (munasharah). Sangatlah tidak baik jika ada mutarobbi sakit, sang murobbi/yah tidak ada kepedulian sama sekali. Haruslah dihindarkan juga murobbi/yah tidak menepati kesepakatan yang telah dibuat. Misal mudah untuk ijin tidak hadir dalam pertemuan liqo, atau sering terlambat. Hendaklah murobbi menjadi yang selalu datang tepat waktu saat liqo.

Begitu juga tentang kesepakatan lainnya, misal rihlah bersama, riadhoh dan acara2 lainnya. Jangan mudah tuk membatalkan dan membiarkan mutarobbi yang sudah susah2 meluangkan waktunya tuk menepati kesepakatan tersebut dikecewakan karena mudahnya murobbi/yah terlambat bahkan tidak datang. Kalaupun ada kondisi yang darurat, janganlah lupa tuk segera memberitahukannya dengan jelas kepada mutarobbi kita. Ikatan hati juga bisa lebih terjalin saat murobbi selalu menjadi orang yang peduli dan memberi perhatian penuh kepada mutarobbinya. Sehingga mutarobbi merasakan murobbi mereka adalah ayah, guru, kawan, serta saudara yang baik baginya.

Setelah ikatan hati terjalin, maka ikatan halaqoh menjadi begitu indah. Pertemuan2 pun menjadi pertemuan yang senantiasa dirindukan, bukan sebuah beban dan keterpaksaan. Saat itulah murobbi harus pandai2 tuk mengelola halaqoh. Halaqoh harus bisa dibuat bervariatif, kadang ada bedah buku, diskusi tematik misal tentang keluarga, mabit, rihlah dan tadabur alam, silaturahmi tokoh, saling mengunjungi dsb. Bila hal itu bisa berjalan, maka kejenuhan dalam liqo bisa terhindarkan. Yang juga penting dalam liqo, adanya muatan amar ma’ruf dan nahi munkar di sana. Janganlah bosan tuk mengingatkan mutarobbi dalam amal yaumiyah mereka. Karena sesungguhnya tujuan utama murobbi/yah membina mutarobbinya adalah dalam rangka pembinaan kehidupan berIslam mereka. Tentu di sini perlu keteladanan dari murobbi/yah.

Mungkin dari uraian di atas sebagian jadi berpendapat kok nampaknya susah ya tuk menjadi murobbi. Bisa jadi begitu, kalo kita memandangnya susah. Tapi kalo kita memandangnya itu sebagai sebuah kerja yang mulia dengan pahala surganya, maka hal-hal di atas tidaklah berat. Kunci pokoknya adalah perhatian dan kepedulian sehingga memunculkan ikatan hati, kemudian saling amar makruf nahi munkar dengan keteladanan dari murobbi/yah. Yang terakhir ini sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri karena justru akan membawa kita tuk senantiasa istiqomah di jalan-Nya. So, apa yang susah??? Setiap jalan kebaikan pasti akan ada ujian dan cobaannya, begitupun jalan para murobbi/yah. Maka, jika setiap kesulitan dan kendala dalam melakoninya dirasakan sebagai ujian dan cobaan dari Allah, maka akan terasa nikmat dan berpahala. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

SEHAT vs SAKIT

Untuk sahabat yang masih diuji dengan sakit, dan sedang berjuang menjemput sehat. Semoga Allah SWT senantiasa teguhkan dan lipatkan kesabara...